Batilnya Syarat Yang Menyalahi Hukum Syara’

Pintu Ledeng TV - Batilnya Syarat Yang Menyalahi Hukum Syara'

Batilnya Syarat Yang Menyalahi Hukum Syara’

Pintuledeng.com – Tiada gunanya orang mempersyaratkan syarat-syarat yang tidak ada di dalam Kitabullah. Syarat apapun yang tidak ada dalam Kitabullah adalah batil meskipun seratus syarat. Ketetapan Allah lebih layak (diikuti) dan syarat Allah lebih kuat (dipegangi) (HR al-Bukhari, Malik dan Ibn Majah).

Syurûth adalah bentuk plural dari syarth[un], artinya ilzâma asy-syay’ wa iltazamahu (mewajibkan sesuatu dan terikat dengannya). Isytaratha artinya mewajibkan sesuatu kepada pihak lain dan menyatakan diri terikat dengan sesuatu itu. Lafal mâ kâna min syarth[in] bersifat umum dan mutlak mencakup semua bentuk dan jenis syarat serta bagiannya.

Adapun lafal laysa fî Kitâbillâh, menurut al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Ashqalani maksudnya adalah fî hukmillâh (dalam hukum Allah), baik disebutkan dalam al-Quran ataupun as-Sunnah; atau maksudnya adalah yang tertulis, yakni di Lauhul Mahfuzh.[Ibn Hajar al-‘Ashqalani, Fath al-Bârî, 1/551, ed. M Fuad ‘Abd al-Baqi dan Muhibbuddin al-Khathib, Dar al-Ma’rifah, Beirut, 1379 H.]

Ibn Bathal mengatakan bahwa maknanya adalah dalam hukum Allah serta ketetapan-Nya yang ada dalam Kitab-Nya, Sunnah Rasul-Nya dan Ijmak umat. [Ibn Bathal, Syarh Ibn Bathal, 13/78, CD al-Maktabah asy-Syamilah al-ishdar ats-tsani]

Adapun al-Manawi dan pengarang ‘Awn al-Ma’bûd mengatakan bahwa makna fî Kitâbillâh adalah dalam hukum Allah yang telah ditetapkan terhadap hamba-Nya dan disyariatkan untuk mereka. Ibn Khuzaimah mengatakan, yaitu yang tidak ada dalam hukum Allah kebolehan atau pewajibannya, bukan bahwa setiap orang yang mensyaratkan syarat yang tidak dinyatakan oleh Kitabullah adalah batil. Sebab, kadangkala dalam jual-beli disyaratkan adanya penjamin dan syarat itu tidak batil; kadang pula disyaratkan harga berupa karakteristik, pembayaran, dsb dan itu juga tidak batil. Jadi, syarat-syarat yang masyrû‘ adalah sahih dan yang selainnya adalah batil. [Muhammad Syams al-Haqq al-‘Azhim Abadi Abu ath-Thayyib, ‘Awn al-Ma’bûd, 10/311-313, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, cet. ii. 1415 H; Al-Manawi, Faydh al-Qadîr, 2/173, Maktabah at-Tijariyah al-Kubra, Mesir, cet. i. 1356.]

Al-Qurthubi menyatakan makna laysa fî Kitâbillâh adalah tidak disyariatkan di dalam kitabullah baik secara rinci ataupun asal. Artinya, di antara hukum itu ada yang terdapat rinciannya dalam Kitabullah, seperti wudhu, dan ada yang terdapat asal (pokok)-nya saja tanpa rinciannya, seperi shalat. Di antaranya ada yang pokoknya terdapat dalam Kitabullah karena Kitabullah menunjukkan status menjadi dasar dari as-Sunnah dan Ijmak, begitu pula Qiyas yang sahih. Artinya, setiap hukum yang rinciannya dieksplorasi dari ushul ini maka itu berarti diambil dari Kitabullah asal/pokoknya.[Muhamamd ibn ‘Abd al-Baqi ibn Yusuf Az-Zarqani, Syarh az-Zarqânî ‘alâ Muwatha’ al-Imâm Mâlik, 4/116, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, cet.i. 1411].

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply