Berdiam Diri Sama Seperti Berbuat Kemungkaran

Pintu Ledeng TV - Berdiam Diri Sama Seperti Berbuat Kemungkaran

Berdiam Diri Sama Seperti Berbuat Kemungkaran

Pintuledeng.com – Allah Swt. berfirman (yang artinya): Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan. (TQS al-Maidah [5]: 63).

Ayat di atas adalah celaan sekaligus peringatan Allah Swt. kepada para ulama yang tidak menegakkan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Menurut al-Qurthubi, ayat ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan upaya mencegah kemungkaran sama dengan orang yang berbuat kemungkaran itu sendiri. (Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubi, VI/237).

Imam al-Bukhari meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad saw. telah mensyaratkan kepada Jarir bin Abdillah—ketika datang untuk membaiat Beliau atas Islam—agar menyampaikan nasihat kepada setiap Muslim. (Al-Bukhari, Shahîh al-Bukhârî, I/22). Dalam hadis ini, menasihati setiap Muslim disyaratkan sebagai salah satu bentuk kesetiaan pada Islam. Dengan kata lain, seseorang belum dikatakan sempurna kesetiaannya pada Islam jika mengabaikan urusan menasihati sesama Muslim. Ini menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap masalah nasihat-menasihati sesama Muslim. Hal ini wajar karena, sebagaimana sabda Nabi saw. sendiri, “Ad-Dîn nashîhah (Agama adalah nasihat).”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz ra. memahami benar makna hadis ini. Karena itu, pada masa Kekhilafahannya, beliau telah memperlakukan sama orang yang berdiam diri terhadap kemungkaran dengan pelaku kemungkaran itu sendiri; sama-sama dianggap pelaku kriminal. Keduanya berhak mendapat sanksi/hukuman di dunia. Pada masanya, polisi negara pernah datang kepada sekelompok orang yang sedang mabuk-mabukan dengan meminum khamr, sementara di samping mereka duduk-duduk seorang Muslim yang tidak ikut mabuk;  dia bahkan sedang berpuasa. Saat itu, Khalifah memerintahkan kepada sang polisi untuk mencambuk mereka semuanya, tanpa kecuali. Petugas polisi berkata, “Amirul Mukminin, si fulan ini tidak ikut mabuk bersama mereka; dia bahkan sedang berpuasa.”

Khalifah Umar berkata, “Hadirkan dia dan cambuklah! Tidakkah dia mendengar firman Allah Swt. (yang artinya): Sungguh, Allah telah menurunkan kepada kalian di dalam al-Quran, bahwa jika kalian mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok oleh orang-orang kafir, janganlah kalian duduk-duduk bersama mereka hingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Sesungguhnya jika kalian berbuat demikian, tentu kalian sama saja dengan mereka. (QS an-Nisa’ [4]: 140).”

Demikianlah sikap Khalifah Umar ra.; beliau telah menganggap orang yang mendiamkan kemungkaran sebagai pelaku kriminal yang layak dihukum; sama dengan pelaku kemungkaran itu sendiri.

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply