Dalil-dalil dari As-sunnah Qauliyah Tentang Kewajiban Mengangkat Imam atau Khalifah (1)

Dalil-dalil dari As-sunnah Qauliyah Tentang Kewajiban Mengangkat Imam atau Khalifah (1)

Dalil-dalil dari As-sunnah Qauliyah Tentang Kewajiban Mengangkat Imam atau Khalifah (1)

Pintu Ledeng TV – Banyak hadits diriwayatkan dari Nabi yang menunjukkan kewajiban mengangkat seorang imam, antara lain: 

Pertama; riwayat Abdullah bin Umar dari Nabi, beliau bersabda: 

Siapa saja yang meninggal dunia sementara di lehernya tidak ada baiat, maka ia mati seperti mati jahiliyah.”1

Maksudnya adalah baiat kepada seorang imam. Hadits ini dengan jelas menunjukkan wajibnya mengangkat seorang imam. Sebab, baiat itu wajib bagi seorang muslim dan baiat tidak bisa dilaksanakan tanpa imam. Jadi, mengangkat seorang imam adalah wajib hukumnya. 

Kedua; riwayat Abu Sa’id Al-Khudri , bahwa Rasulullah bersabda:

“Apabila ada tiga orang pergi safar, hendaklah mereka mengangkat satu orang di antara mereka sebagai pemimpin.”

Hadits serupa juga diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abdullah bin Umar, bahwa Nabi, bersabda:

Tidak boleh bagi tiga orang yang berada di suatu padang luas, kecuali mereka mengangkat satu orang di antara mereka sebagai pemimpin.2

Syekhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Jika Nabi mewajibkan jamaah dan perkumpulan dengan jumlah paling kecil untuk mengangkat seseorang di antara mercka sebagai pemimpin, artinya kewajiban yang sama juga berlaku bagi jamaah dan perkumpulan dengan jumlah yang lebih besar.3


  1. HR Muslim, kitab;kekuasaan, bab;wajib memenuhi baiat para khalifah, hadits nomor 1851 (III/1478)
  2. HR. Abu Dawud, kitab; jihad, hadits nomor 87 (‘Aunul Ma’bûd, VII/267), Ahmad (11/1 77), Al-Bazzar dari hadits Umar bin Khathab dengan sanad sahih. Al-Bazzar juga meriwayatkan hadits ini dengan sanad sahih dari hadits marfu’ Ibnu Umar dengan lafal; “Apabila mereka berjumlah tiga orang dalam suatu perjalanan, hendaklah mereka mengangkat seseorang di antara mereka sebagai pemimpin.” Hadits dengan lafal ini diriwayatkan Ath-Thabrani dari Ibnu Mas’ud dengan sanad sahih. Hadits-hadits ini saling memperkuat satu sama lain. Abu Dawud dan Al-Mundziri tidak memberikan komentar apa pun terhadap hadits Abu Sa’id dan Abu Hurairah. Para perawi kedua hadits ini addlah perawi-perawi kitab Shahih, kecuali Ali bin Bahr, ia perawi tsiqah. Disebutkan dalam Al-Khulâshah, “la dinyatakan tsiqah oleh Ibnu Ma’in, dan Ibnu Ma’in tidak menyebut kritikan apa pun terkait Ali bin Bahr.” Baca; Nailul Awthâr, Asy-Syaukani (VIII/288), Ar-Raudh An-Nadhîr, As-Siyaghi (V/23). Hadits ini disahihkan Nashiruddin Al-Albani dalam Irwâ’ul Ghalîl, hadits nomor 2454 (VIII/1 06), dan Ahmad Syakir dalam takhrijnya untuk kitab Al-Musnad, hadits nomor 6647 (VI 33). 
  3. Al-Hisbah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal: 11, cetakan pertama, 1976 M., Darusy Sya’bi, tahqiq;

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply