Hukum Jual Beli Lelang Dalam Islam

Pintu Ledeng - Hukum Jual Beli Lelang Dalam Islam

Pintu Ledeng TV – Membeli barang dari lelang adalah salah satu cara membeli barang yang murah dan berkualitas. Ada banyak lembaga lelang yang didirikan oleh pemerintah ataupun swasta. Bagaimanakah Islam memandang jual beli lelang tersebut.
Dalam fikih mu’amalah lelang disebut Bay’ al-muzâyadah. Secara umum hukumnya adalah boleh (mubah). Prinsipnya adalah penjual menawarkan barangnya kepada para pembeli dan ia akan menjualnya kepada orang yang membayar paling tinggi.

Hal tersebut telah berlaku pada masa Nabi saw. Ibn Majah telah mengeluarkan hadits dari Anas bin Malik:
«أَنَّ رَجُلاً مِنْ الأَنْصَارِ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم يَسْأَلُهُ فَقَالَ: لَكَ فِي بَيْتِكَ شَيْءٌ؟ قَالَ: بَلَى، حِلْسٌ نَلْبَسُ بَعْضَهُ وَنَبْسُطُ بَعْضَهُ وَقَدَحٌ نَشْرَبُ فِيهِ الْمَاءَ، قَالَ: ائْتِنِي بِهِمَا، قَالَ: فَأَتَاهُ بِهِمَا، فَأَخَذَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِيَدِهِ ثُمَّ قَالَ: مَنْ يَشْتَرِي هَذَيْنِ؟ فَقَالَ رَجُلٌ: أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمٍ، قَالَ: مَنْ يَزِيدُ عَلَى دِرْهَمٍ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلاثًا، قَالَ رَجُلٌ: أَنَا آخُذُهُمَا بِدِرْهَمَيْنِ، فَأَعْطَاهُمَا إِيَّاهُ وَأَخَذَ الدِّرْهَمَيْنِ فَأَعْطَاهُمَا الأَنْصَارِيَّ…»
“Bahwa seorang laki-laki dari Anshar datang kepada Nabi saw bertanya kepada beliau. Beliau bertanya, ‘Engkau punya sesuatu di rumahmu?’. Ia berkata: ‘Benar, sebuah alas pelana, kami pakai sebagian dan kami hamparkan sebagian; dan sebuah gelas yang kami gunakan untuk minum air’. Nabi bersabda, ‘Bawa keduanya kepadaku.’ Anas berkata, Maka ia membawanya kepada Nabi saw, dan beliau mengambil keduanya darinya. Kemudian Nabi saw besabda, ‘Siapa yang mau membeli kedua barang ini?’. Seorang laki-laki berkata, ‘Saya ambil keduanya dengan satu dirham’. Nabi bersabda: ‘Siapa yang menambah atas satu dirham?’ Beliau ucapkan dua atau tiga kali. Seorang laki-laki berkata, ‘Saya ambil keduanya dengan dua dirham.’ Maka Nabi memberikan keduanya kepada orang itu dan beliau mengambil darinya dua dirham dan beliau berikan kepada laki-laki anshar itu…”

Inilah dalil mengenai kebolehan lelang. Namun tidak semerta-merta boleh begitu saja, ada batasan dalam jual beli semacam ini.

Ada istilah an-najasy dalam jual beli ini. Yaitu menambah penawaran harga bukan maksud untuk membeli, akan tetapi untuk memperdaya orang lain agar membelinya dengan harga tinggi. Bukhari telah mengeluarkan hadits dari Sa’id bin al-Musayyab, bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata: “Rasulullah saw bersabda:

«…وَلاَ تَنَاجَشُوْا…»
“Jangan kalian saling menawar untuk meninggikan harga (an-najasy)”

Bukhari juga mengeluarkan dari Ibn Umar ra. Ia berkata:
«نَهَى النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنِ النَّجْشِ»
“Nabi saw melarang an-najasy”.

An-najasy adalah menambah harga barang padahal ia tidak membelinya. Yakni menambah tawaran harga pada suatu barang dengan maksud tidak ingin membelinya, tetapi untuk mengkondisikan orang lain yang menawarnya, agar menduga tidak bisa mendapat barang tersebut, jika tidak melebihi tawarannya; sehingga ia tertipu dan menambah tawaran harganya agar ia bisa membelinya.

Demikian juga sebaliknya, tidak boleh para pembeli bersepakat diantara mereka untuk merendahkan harga barang. Dan mereka bersepakat untuk tidak membayar lebih dari harga yang rendah, dan tidak menambah dari harga itu. Hal itu dimaksudkan agar penjual menjual dengan harga murah atau rendah. Sebab ia tidak mendapati pedagang yang mau membayar lebih tinggi.

Biasanya para pedagang sepakat dengan pedagang lain yang memberinya harta sebagai imbalan agar tidak menambah tawaran dari harga yang ia bayar; sementara ia membayar harga yang rendah untuk barang tersebut sedangkan para pedagang lainnya mau membayar harga yang lebih rendah dari harga itu sesuai kesepakatan di antara para pedagang itu.

Lalu penjual itu pun menjual barangnya kepada pedagang yang menawar dengan harga murah itu, sebab semua pedagang lainnya hanya mau membayar harga lebih murah, di mana itu sesuai kesepakatan dengan pedagang yang membeli tersebut. Ini termasuk dalam bab al-khadî’ah. Ibn Hibban telah mengeluarkan di dalam Shahîh-nya dari Zirru dari Abdullah ia berkata: “Rasulullah saw bersabda:

«مَنْ غَشَّنَا فَلَيْسَ مِنَّا، وَالْمَكْرُ وَالْخِدَاعُ فِي النَّارِ»
“Siapa yang menipu maka dia bukan bagian dari golongan kami dan makar dan tipudaya di neraka.”

Ishhaq bin Rahuwaih telah mengeluarkan di dalam Musnadnya dari Abu Hurairah dari Nabi saw, beliau bersabda:
«الْمَكْرُ وَالْخَدِيعَةُ فِي النَّارِ»
“Makar dan tipudaya di neraka”
Dan juga dikeluarkan oleh al-Bazar di Musnad-nya.

Demikian juga Allah SWT melarang merugikan manusia pada hak-hak mereka. Maka para pedagang menampakkan bahwa nilai barang itu rendah. Hal itu untuk menipu pemilik barang, sehingga ia menjualnya dengan harga murah. Allah SWT berfirman:
﴿وَلا تَبْخَسُوا النَّاسَ أَشْياءَهُمْ﴾
“Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya.” (26: 183)

Dengan ungkapan lain, para pedagang sepakat untuk membayar harga lebih kecil dari harga yang diinginkan orang itu untuk membeli barang tersebut dengan imbalan orang itu membayar harta kepada mereka. Aktifitas ini haram. Sebab ini masuk dalam Bab al-Khadî’ah (tipudaya) terhadap pemilik barang untuk dibeli dengan harga murah. Dan harta yang diabil oleh pedagang itu dari para pedagang lainnya adalah haram.

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply