Inilah Fungsi Al-Quran Bagi Manusia

Pintu Ledeng - Inilah Fungsi Al-Quran Bagi Manusia

Pintu Ledeng TV – Al-Quran adalah kitab yang harus diimani bahwa Allah-lah yang menurunkan kitab tersebut melalui Nabi Muhamad. Lalu apa fungsi Quran bagi manusia? Inilah yang akan kita bahas.

Fungsi al-Quran adalah sebagai petunjuk (huda), penjelasan (bayyinaat), dan pembeda antara haq dengan bathil (furqa). Hal ini telah dijelaskan di dalam firman Allah swt;

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dengan yang bathil.” (QS. al-Baqarah [2]: 185).

Yang dimaksud dengan al-Qur’an di sini adalah al-Qur’an yang diturunkan secara lengkap dari Lauh Mahfudz ke langit dunia (Baitul ‘Izzah). Setelah itu, al-Qur’an diturunkan dari langit bumi kepada Nabi Muhammad Saw secara berangsur-angsur.

Al-Hafidz as-Suyuthi dalam kitabnya Itqân fi ‘Ulûm al-Qur’ân mengatakan, “Berkaitan dengan firman Allah SWT surat al-Baqarah [2]: 185, ada tiga pendapat berbeda mengenai cara diturunkannya al-Qur’an dari Lauh al-Mahfudz. Pendapat pertama —dan ini adalah pendapat yang paling shahih— menyatakan bahwa al-Quran diturunkan dari Lauh al-Mahfudz ke langit dunia secara lengkap. Peristiwa ini terjadi pada malam Lailatul Qadar (bulan Ramadhan). Setelah itu, al-Qur’an diturunkan dari langit dunia kepada ummat manusia secara berangsur-angsur selama 20 tahun, 23 tahun, atau 25 tahun sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw setelah beliau diutus oleh Allah SWT…”
Ayat ini juga menjelaskan fungsi al-Qur’an sebagai hudan li an-nâs (petunjuk bagi manusia), bayyinât min al-hudâ (penjelas), dan al-furqan (pemisah atau pembeda antara yang kebenaran dan kebathilan).

Imam al-Qurthubi dalam kitabnya Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, mengatakan, “Tafsir dari firman Allah SWT, hudan li an-nâs wa bayyinât min al-hudâ wa al-furqân adalah sebagai berikut. Hudâ dibaca nashab karena ia berkedudukan sebagai hâl dari al-Qur’an. Susunan kalimat semacam ini bermakna, hâdiyan lahum (petunjuk kepada mereka). Sedangkan wa bayyinât berkedudukan sebagai ‘athaf ‘alaih”. Arti ‘al-hudâ sendiri adalah al-irsyâd wa al-bayân (petunjuk dan penjelasan). Maknanya adalah, al-Qur’an dengan keseluruhannya, baik ayat-ayat muhkâm, mutasyâbihât, nâsikh dan mansûkh jika dikaji dan diteliti secara mendalam akan menghasilkan hukum halal dan haram, nasehat-nasehat serta hukum-hukum yang penuh hikmah. Adapun al-furqân bermakna mâ farraqa bain al-haq wa al-bâthil (semua hal yang bisa memisahkan antara yang haq dengan yang bathil).

Imam ath-Thabari menjelaskan bahwa hudan li an-nâs bermakna rasyâdan li al-nâs ilâ sabîl al-haq wa qashd al-manhaj (petunjuk kepada ummat manusia menuju jalan kebenaran dan metode yang lurus). Adapun makna dari bayyinât min al-hudâ adalah wâdlihât min al-hudâ (petunjuk-petunjuk yang sangat jelas); artinya bagian dari petunjuk yang menjelaskan tentang hudud Allah, farâ’idh-Nya, serta halal dan haramNya. Sedangkan al-furqân berarti al-fashl bain al-haq wa al-bâthil (pemisah antara kebenaran dan kebathilan). Makna ini sejalan dengan hadits yang diriwayatkan dari al-Suddi, “Maksud dari firman Allah SWT, wa bayyinât min al-hudâ wa al-furqân adalah bayyinât min al-halâl wa al-harâm (penjelasan yang menjelaskan halal dan haram). (Imam ath-Thabari, Jâmi’ al-Bayan fi Tafsîr al-Qur’âni).

Al-Hafidz as-Suyuthi dalam tafsir Jalâlain menjelaskan bahwa al-hudâ bermakna “petunjuk yang dapat menghindarkan seseorang dari kesesatan”. Sedangkan bayyinât min al-hudâ bemakna, “ayat-ayat yang sangat jelas serta hukum-hukum yang menunjukkan seseorang kepada jalan yang benar.” Al-Furqân sendiri bermakna “pemisah antara kebenaran dan kebathilan.”

Ayat di atas telah menggambarkan betapa Allah SWT telah memuliakan dan mengagungkan bulan Ramadhan di atas bulan-bulan yang lain. Sebab, di bulan itu Allah SWT menurunkan al-Qur’an yang berisikan petunjuk, penjelasan serta pemisah antara yang haq dan bathil. Tidak hanya itu saja, al-Qur’an adalah sumber segala sumber hukum bagi kaum Muslim yang tidak boleh diingkari dan diacuhkan.

Dalam masalah ini Imam Ibnu Taimiyyah berkata: “Barangsiapa tidak mau membaca al-Qur’an berarti ia mengacuhkannya dan barangsiapa membaca al-Quran namun tidak menghayati maknanya, maka berarti ia juga mengacuhkannya. Barangsiapa yang membaca al-Quran dan telah menghayati maknanya akan tetapi ia tidak mau mengamalkan isinya, maka ia pun berarti mengacuhkannya.” Selanjutnya Imam Ibnu Taimiyyah menyitir sebuah ayat:

“Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku! Sesungguhnya kaumku menjadikan al-Qur’an ini suatu yang diacuhkan.” (Qs. al-Furqân [25]: 30).

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply