Jauhilah Amarah, Maka Surga Merindukanmu

Pintu Ledeng TV - Jauhilah Amarah, Maka Surga Merindukanmu

Jauhilah Amarah, Maka Surga Merindukanmu

Pintu Ledeng TV – Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri].

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqâlani rahimahullah berkata, “Adapun hakikat marah tidaklah dilarang karena merupakan perkara tabi’at yang tidak bisa hilang dari perilaku kebiasaan manusia.”[Fat-hul Bâri, X/520]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Apabila seorang dari kalian marah dalam keadaan berdiri, hendaklah ia duduk; apabila amarah telah pergi darinya, (maka itu baik baginya) dan jika belum, hendaklah ia berbaring”. [Shahîh. HR Ahmad (V/152), Abu Dawud (no. 4782), dan Ibnu Hibban (no. 5688) dari Sahabat Abu Dzarr Radhiyallahu anhu]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Apabila seorang dari kalian marah, hendaklah ia diam”. [Shahîh. HR Ahmad (I/239, 283, 365), al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 245, 1320), al-Bazzar (no. 152- Kasyful Astâr) dari Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma. Hadits ini dishahîhkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish-Shaghîr (no. 693) dan Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah (no. 1375)]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang kuat itu bukanlah yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah”. [Shahîh. HR al-Bukhâri (no. 6114) dan Muslim (no. 2609) dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu]

Imam Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan bahwa melawan hawa nafsu lebih berat daripada melawan musuh. [Lihat Fat-hul-Bâri (X/518)]

Mari kita renungi firman Allah SWT berikut, “…Dan apabila mereka marah segera memberi maaf”. [asy-Syûrâ/42 : 37]. Juga dengan firman-Nya Ta’ala, “…Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan”. [Ali ‘Imrân/3 : 134].

Akhirul kalam, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepada seorang sahabatnya, “Jangan kamu marah, maka kamu akan masuk Surga”. [Shahîh. HR ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausath (no. 2374) dari Sahabat Abu Darda Radhiyallahu anhu. Dishahihkan oleh Syaikh al-Albâni dalam Shahîh al-Jâmi’ish Shaghîr (no. 7374) dan Shahîh at-Targhîb wat-Tarhîb (no. 2749)]

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Barangsiapa menahan amarah padahal ia mampu melakukannya, pada hari Kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk, kemudian Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai”. [Hasan. HR Ahmad (III/440), Abu Dawud (no. 4777), at-Tirmidzi (no. 2021), dan Ibnu Majah (no. 4286) dari Sahabat Mu’adz bin Anas al-Juhani Radhiyallahu anhu]

Dari penjelasan-penjelasan di atas, mudah-mudahan kita dimampukan Allah untuk meredam amarah. Kecuali amarah yang diperbolehkan oleh Allah SWT dan Rasulnya.

 

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply