Kedudukan Niat Dalam Islam

Pintu Ledeng TV - Kedudukan Niat Dalam Islam

Kedudukan Niat Dalam Islam

Pintuledeng.com – Sesungguhnya perbuatan itu bergantung pada niatnya dan bagi setiap orang apa yang ia niatkan. Siapa saja yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya itu menuju Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang akan dia nikahi maka hijrahnya adalah pada apa yang dia tuju itu (HR al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibn Majah, Ahmad, al-Humaidi, Ibn al-Jarud, Ibn Hibban, ath-Thahawi, ath-Thayalisi, ad-Daraquthni dan lainnya)

Hadis ini adalah hadis gharîb. Menurut Imam an-Nawawi dalam Syarh al-Arba’în, itu karena hanya Umar bin al-Khaththab ra. yang meriwayatkannya dari Rasulullah saw. Dari Umar hanya diriwayatkan oleh Alqamah bin Abi Waqash; dari Alqamah hanya diriwayatkan oleh Muhammad bin Ibrahim at-Taimi; dari Muhammad bin Ibrahim hanya diriwayatkan oleh Yahya bin Said al-Anshari. Dari Yahya bin Sa’id barulah diriwayatkan oleh banyak orang hingga lebih dari dua ratus orang yang kebanyakan adalah para imam.

Menurut mayoritas ulama, lafal innamâ adalah untuk membatasi (li al-hashr). Maknanya adalah bahwa perbuatan itu bergantung pada niatnya. Artinya, tidak ada perbuatan kecuali dengan niat. Penafian yang dimaksud adalah penafian konsekuensi hukum perbuatan itu dari sisi keabsahannya. Artinya, niat menentukan status perbuatan. Hadis ini juga menunjukkan bahwa seseorang hanya akan mendapatkan dari perbuatannya sesuatu yang sesuai dengan apa yang dia niatkan.

Jadi, hadis ini menyiratkan dua hal. Pertama: niat dari sisi motif suatu perbuatan. Kedua: “niat” sebagai penentu perbuatan. Ibn Rajab al-Hanbali dalam Jâmi’ al-‘Ulûm wa al-Hikâm menyatakan bahwa niat dalam pembicaraan para ulama ada dua makna: Pertama, penentuan maksud (motif) perbuatan apakah karena Allah, karena yang lain atau karena Allah bersama yang lain. Jadi niat di sini masuk dalam bahasan ikhlas. Kedua, penentu atau pembeda suatu ibadah dari yang lain; misal shalat, apakah shalat zhuhur atau ‘asar, wajib atau sunnah; puasa apakah wajib atau sunnah, dsb.

Dari sini akan jelas lingkup perbuatan yang dicakup oleh makna niat itu. Niat dalam makna motif (maksud) perbuatan apakah karena Allah atau bukan jelas meliputi semua perbuatan dan tindakan yang keluar dari manusia. Jika ikhlas semata karena Allah maka akan mendapatkan pahala. Sebaliknya, jika tidak maka tidak akan mendapat pahala. Hadis ini mencontohkan orang yang berhijrah. Jika dia melakukankannya dengan niat (maksud) menuju keridhaan Allah maka ia akan mendapat pahala. Jika dia melakukannya dengan niat (motif) mendapat dunia (harta, dsb) atau untuk menikahi wanita, maka ia hanya akan mendapatkan dunia atau wanita itu, namun tidak mendapat pahala di sisi Allah.

Untuk mengetahui ikhlas atau tidak, mudahnya adalah jika seseorang melakukan atau tidak melakukan sesuatu karena perintah dan larangan Allah, yaitu karena halal dan haram, maka saat itu dia ikhlas. Jika orang berpuasa Ramadhan atau shalat zuhur, karena keduanya wajib, maka itu tanda ikhlas. Jika seseorang menolak suap, tidak berjudi, dsb, karena semua itu haram, maka ia meninggalkan semua itu karena ikhlas. Hal itu karena semua itu dilakukan atau tidak dilakukan karena perintah dan larangan Allah; artinya karena Allah dan itu adalah ikhlas.

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply