Landasan dari As-sunnah Fi’liyah Tentang Kewajiban Mengangkat Imam atau Khalifah (2)

Landasan dari As-sunnah Fi’liyah Tentang Kewajiban Mengangkat Imam atau Khalifah (2)

Landasan dari As-sunnah Fi’liyah Tentang Kewajiban Mengangkat Imam atau Khalifah (2)

Pintu Ledeng TV – Abdul Qadir Audah ra menjelaskan, “Rasulullah membentuk kaum muslimin sebagai kesatuan politik, membentuk satu daulah dengan mempersatukan mereka semua di mana beliau sendiri yang menjadi pemimpin dan imam tertinggi. Beliau memiliki dua tugas: 

Pertama; menyampaikan wahyu dari Allah. 

Kedua; menegakkan perintah Allah dan mengarahkan kebijakan daulah sesuai aturan-aturan İslam. Era penyampaian syariat sudah berakhir seiring wafatnya Rasulullah dan terputusnya wahyu. Apabila kaum muslimin tidak perlu lagi menyampaikan syariat1 setelah wafatnya Rasulullah karena sudah ada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun mereka sangat memerlukan adanya seseorang yang selalu menjaga Al-Qur’an dan As-Sunnah. Membimbing mereka untuk tetap berada dalam batasan-batasan Islam setelah Rasulullah membentuk mereka semua menjadi kesatuan politik, memberi teladan memimpin daulah dan menjadi imam kaum muslimin di belahan timur dan barat bumi. Lebih dari itu, (konsekuensi) meneladani Rasulullah dan mengikuti As-sunnah beliau mengharuskan kaum muslimin secara keseluruhan untuk membentuk satu kesatuan politik, mendirikan satu daulah yang mempersatukan mereka semua, mengangkat seorang pemimpin yang menggantikan peran Rasulullah dalam menegakkan agama dan mengarahkan kebijakan daulah murni secara Islami.2

Intinya, perbuatan Nabi dalam memegang kendali Daulah Islamiyah yang pertama merupakan dalil wajibnya imamah karena Nabi dahulu bertugas menjelaskan hukum-hukum syariat melalui perkataan, perbuatan, dan taqrirnya (penetapannya), dan perbuatan Nabi adalah menunjukkan (hukum) wajib, menurut pendapat mereka.3 Jika memang hukum ini bukan berlaku khusus untuk Nabi Saw, bukan untuk segolongan umat tertentu, bukan sesuatu yang meragukan antara penduduk gunung dan selainnya, dan bukan pula sebagai penjelasan nash mujmal (global) seperti hukum potong tangan pencuri dan semacamnya, berdasarkan firman Allah ,

“Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, (yaitu) Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalitnat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya). Ikutilah dia, agar karnu mendapat petunjuk.” (Al-A’raf: 158)

Firman-Nya, “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7).

Dan firman-Nya, “Maka ketika Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami nikahkan engkau dengan dia (Zainab) agar tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (menikahi) istri-istri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya terhadap istrinya. Dan ketetapan Allah itu pasti terjadi.” (Al-Ahzab: 37). 

Ibnu An-Najjar menuturkan, “Andai bukan karena kewajiban, tentu pernikahan Nabi (dengan Zainab) tidak menghilangkan keberatan bagi orang-orang mukmin untuk menikahi istri anak-anak angkat mereka (setelah diceraikan). “4


  1. Maksudnya menyampaikan syariat baru. Sementara menyampaikan Al-Qur’an dan As-sunnah, hukumnya tetap wajib bagi ulama umat menurut kesepakatan. 
  2. Al-Islam wa Audhå’unå As-Siyåsiyyah, Abdul Qadir Audah, hal: 127, Muassasah Ar-Risalah, Beirut. 
  3. Ulama ushul berbeda pendapat terkait hal ini. Sebagian menyatakan; wajib. Yang lain menyatakan; dianjurkan. Yang lain menyatakan; mubah. Sebagian lainnya abstain. Untuk mengetahui rincian permasalahan ini silahkan merujuk Syarhul Kaukab Al-Munir, Ibnu Najjar Al-Hanbali (11/1 89), Bulletin pusat study ilmiah Universitas Ummul Qura, tahqiq; DR. Muhammad Az-Zuhaili, DR. Nazih Hammad, dan Al-Musthafa Al-Ghazali (11/21 4), Irsyådul Fuh01, hal: 38, Ushülul Fiqh, Muhammad Abu An-Nur Zuhair (111/1 07), dan seterusnya. 
  4. Syarhul Kaukab Al Munir, Ibnu Najjar Al Hanbali (II/190)

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply