Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

Pintu Ledeng TV - Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

Pintuledeng.com – Siapa saja yang memusuhi wali-Ku maka Aku mengumumkan perang terhadapnya. Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada apa yang Aku fardhukan atasnya. Tidaklah hamba-Ku terus-menerus bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal nawafil hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya maka aku menjadi pendengarannya yang dia gunakan untuk mendengar; menjadi penglihatannya yang dia gunakan untuk melihat; menjadi tangannya yang dia gunakan untuk menggenggam dengan kuat; dan menjadi kakinya yang dia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku niscaya Aku beri. Jika ia meminta perlindungan-Ku niscaya Aku lindungi (HR al-Bukhari, Ibn Hibban dan al-Baihaqi).

Makna Hadits

Pertama: menurut Ibn Hubairah, ‘adâ lî waliyan maknanya ittakhadzahu ‘aduwan (menjadikannya musuh). Hadis ini menunjuk-kan bahwa perwalian Allah itu bisa dicapai dengan melaksanakan yang fardhu dan terus-menerus menambahnya dengan yang sunnah.

Kedua: Taqarrub yang paling dicintai Allah adalah melaksanakan yang fardhu, baik fardhu ain atau kifayah. Ath-Thufi mengatakan, “Perintah fardhu itu bersifat tegas dan meninggalkannya akan dijatuhi sanksi. Hal itu berbeda dengan amal nafilah. Meski sama-sama mendatangkan pahala, amal fardhu lebih sempurna karenanya menjadi amal yang paling dicintai Allah dan yang lebih mendekatkan diri kepadaNya. Fardhu itu seperti pokok atau pondasi, sedangkan amal nafilah seperti cabang atau bangunan.

Ketiga: Al-Fakihani berkata, “Makna hadis ini adalah jika seseorang menunaikan berbagai fardhu dan kontinu melaksanakan amal nawâfil baik shalat, puasa dan lainnya, hal itu akan mengantarkannya pada kecintaan Allah.”

Ibn Hubairah berkata, “Hadis ini menunjukkan bahwa amal nâfilah tidak boleh dikedepankan terhadap yang fardhu. Nâfilah disebut nâfilah (tambahan) karena datang sebagai tambahan terhadap yang fardhu. Karena itu, selama yang fardhu belum ditunaikan, tidak terealisasi nâfilah. Siapa yang menunaikan fâridhah, kemudian menambahnya dengan nâfilah dan melanggengkannya maka ia akan meraih maksud taqarrub.”

Dengan demikian, amalan nâfilah tidak boleh lebih dikedepankan atas amalan fardhu. Amalan sunah itu nantinya bisa menjadi pelengkap atas kekurangan fâridhah. Kelak pada Hari Penghisaban Allah berfirman kepada para malaikat:

Lihatlah apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah sehingga melengkapi amal fardhu yang kurang, kemudian seluruh amalnya menurut yang demikian (HR at-Tirmidzi, an-Nasai dan Ibn Majah).

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply