Meneladani Imam Asy Syafi’i Dalam Memegang Sunnah Rasulullah SAW

Pintu Ledeng TV - Meneladani Imam Asy Syafi'i Dalam Memegang Sunnah Rasulullah SAW

Meneladani Imam Asy Syafi’i Dalam Memegang Sunnah Rasulullah SAW

Pintu Ledeng TV – Ar-Rabî’ menceritakan pernyataan Imam asy- Syâfi’i rahimahullah kepada beliau: “Aku telah memberikan kepadamu pesan -yang insya Allah- mencukupkanmu, (yaitu): jangan tinggalkan satu pun hadits Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali ada yang menyelisihinya (dari nash syariat), amalkanlah hadits-hadits tersebut sesuai ilmumu apabila berselisih”. [Tawalli at-Ta’sis, hlm. 63]

Sedangkan murid dekat beliau, Imam al-Muzani rahimahullah berkata: “Imam asy-Syâfi’i rahimahullah berkata,’Apabila kamu dapati satu Sunnah (hadits) yang shahîh, maka ikutilah dan jangan berpaling kepada pendapat dari seorang pun’.” [Tawalli at-Ta’sis, hlm. 63]

Sedemikian tinggi komitmen beliau dalam mengikuti Sunnah Rasûlullâh sehingga di Negeri Iraq dijuluki dengan Nâshir as-Sunnah (pembela Sunnah). Hal ini disampaikan al-Khathib al-Baghdadi dengan pernyataannya: “Al-Imam asy-Syâfi’i (adalah) perhiasan ahli fikih dan mahkota para ulama,” kemudian al-Baghdadi juga berkata: “Memasuki kota Baghdad dua kali dan menyampaikan hadits disana serta mereka namakan Nashir as-Sunnah (pembela Sunnah)”. [Târikh al-Baghdadi, 2/56]

Imam ahli Hadits Ahmad bin Hambal memberikan persaksian tentang ketinggian Imam asy-Syâfi’i rahimahullah dalam komitmennya mengikuti hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam . Seorang ulama besar bernama Abdulmalik bin Abdulhamid bin Mihram (wafat 274 H) pernah berkata: “Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah berkata kepadaku,’Mengapa kamu tidak melihat buku-buku karya Imam asy-Syâfi’i? Tiada seorang pun yang menulis kitab sejak adanya kitab-kitab tersebut yang lebih mengikuti Sunnah Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dari asy-Syâfi’i’.” [Adâb asy-Syâfi’i wa Manaqibuhu, hlm. 61.]

Imam Ahmad rahimahullah pun menyatakan: “Apabila hadits tersebut shahîh menurut Imam asy-Syâfi’i rahimahullah pasti dia berpendapat dengannya”. [Tawalli at-Ta’sis, hlm. 63]

Sedangkan Imam Abdurrahmân bin Mahdi rahimahullah berkata: “Wafat ats-Tsauri dan hilanglah sifat wara`, dan wafat asy-Syâfi’i rahimahullahdan hilang juga sunnah-sunnah, serta wafat Ahmad bin Hambal, dan muncullah kebidahan-kebidahan”. [Thabaqât asy-Syâfi’iyah, 2/29]

Sehingga tidaklah berlebihan bila seorang ulama bernama Abul-Azhar Hautsarah bin Muhammad al-Munqiri rahimahullah (wafat tahum 256 H ) berkata: “Sunnah menjadi jelas pada seseorang dalam dua perkara, yaitu: cintanya kepada Ahmad bin Hambal dan menulis buku-buku karya Imam asy-Syâfi’i”. [Al-Intiqa`, hlm. 89]

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply