Pahlawan Yang Tak Ingin Namanya Disebut

Pintu Ledeng - Pahlawan Yang Tak Ingin Namanya Disebut

Pintu Ledeng TV – lbnu Qutaibah, dalam kitabnya Uyuunul Akhbar, menceritakan, “Pasukan yang dipimpin Maslamah bin Abdul Malik mengepung sebuah benteng pertahanan. Pada dinding benteng itu terdapat sebuah lubang. Orang-orang saling berebut memasuki lubang tersebut, tetapi ternyata tidak seorang pun yang dapat melakukannya! Tiba-tiba munculah seorang yang tidak dikenal dari tengah-tengah pasukan, dan berhasil memasuki lubang tersebut, sehingga atas izin Allah benteng itu dapat dikuasai kaum muslimin. Setengah berteriak Maslamah memanggil, ‘Siapa tadi yang berhasil memasuki Iobang?’ Namun tidak seorang pun menghampirinya. Maka Maslamah pun berseru, ‘Baiklah, aku telah memerintahkan pengawal untuk mengantarkannya kepadaku kapan saja ia datang’.

Tiba-tiba datanglah seseorang menghadap pengawal, seraya berkata, “Ijinkan aku menemui panglima”. Pengawal itu bertanya, “Engkaulah orang yang berhasil memasuki lubang?”. Orang itu menjawab, “Aku akan memberitahukan siapa orangnya”.

Segera sang pengawal melaporkanya kepada panglima Maslamah. Panglima pun mengijinkannya masuk. Kemudian orang itu berkata kepada panglima Maslamah, “Sesungguhnya orang yang memasuki lubang meminta kalian tiga hal; Pertama, janganlah kalian menyanjung-nyanjung namanya –yakni jangan kalian menyebut-nyebut namanya dalam surat kepada Khalifah, atau pada siapapun. Kedua, janganlah kalian memerintahkan siapa pun untuk memberinya hadiah apapun. Dan ketiga, janganlah kalian menanyainya tentang asalnya -yakni dari qabilah mana’. Maslamah berkata: ‘Ya, aku kabulkan permintaannya’. Dengan sekonyong-konyong orang itu berkata, “Sayalah orangnya”. Lalu dia pergi begitu saja, meninggalkan sang panglima yang keheranan sekaligus kagum.

Akhirnya pahlawan yang memasuki lubang tersebut tidak pernah terlihat lagi. Setelah peristiwa itu Maslamah setiap kali berdo’a, tidak ketinggalan berkata: “Ya Allah, jadikanlah aku bersama orang yang berhasil memasuki lubang”.

Subhanallah, itulah sebuah fragmen keikhlasan puncak dari para tabi’in. Sang pahlawan tidak perlu pujian dari manusia, ia pun tidak ingin namanya dicatat dalam tinta emas lembaran sejarah. Ia yakin Allah yang Maha Tau Maha Membalas dan hanya keridhoan-Nya yang ia cari. Sudah selayaknya kita mengambil hikmah dari kisah ini dan belajar ikhlas dalam beramal.

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply