Perkara Yang Allah Wajibkan dan Yang Allah Diamkan

Pintu Ledeng TV - Perkara Yang Allah Wajibkan dan Yang Allah Diamkan

Perkara Yang Allah Wajibkan dan Yang Allah Diamkan

Pintuledeng.com – Abu Tsa’labah al-Khusyaniyyu ra. menuturkan bahwa Nabi saw, pernah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan berbagai kewajiban maka jangan kalian lalaikan; Allah telah menetapkan hudud maka jangan kalian lampaui;Allah telah mengharamkan sesuatu maka jangan kalian langgar; dan Allah diam dari sesuatu sebagai rahmat bagi kalian dan bukan karena lupa, maka jangan kalian bahas”. (HR ad-Daraquthni, ath-Thabarani dan Ibn Baththah)

Dalam riwayat lainnya, Abu Darda’ ra. menuturkan bahwa Nabi saw. pernah bersabda:

“Apa saja yang telah Allah halalkan dalam Kitab-Nya adalah halal; apa saja yang telah Allah haramkan dalam Kitab-Nya adalah haram; apa saja yang Allah diamkan adalah dimaafkan maka terimalah yang dimaafkan dari Allah, dan sesungguhnya Allah tiadalah lupa.” Lalu Nabi saw. membaca: Tidaklah Tuhanmu lupa (TQS Maryam [19]: 64). (HR. al-Bazar, ath-Thabarani, al-Baihaqi dan al-Hakim).

Makna hadis di atas secara singkat adalah bahwa Allah telah menetapkan berbagai kewajiban. Kewajiban itu tidak boleh ditelantarkan, dilalaikan atau ditinggalkan. Allah SWT juga menetapkan hudud. Dari alur pembicaraan (siyâq al-kalâm), yang lebih tepat makna hudud dalam hadis di atas adalah sesuatu yang diizinkan. Hudud itu, yakni apa-apa yang Allah izinkan baik perbuatan atau benda, tidak boleh dilewati dengan melakukan atau mengambil yang haram. Allah SWT juga mengharamkan sesuatu atau perbuatan sehingga tidak boleh dilanggar dengan justru melakukan perbuatan atau mengambil sesuatu yang haram itu. Berikutnya, Allah SWT diam dari sesuatu, bukan karena Allah lupa, tetapi sebagai rahmat bagi hamba-Nya sehingga kita dilarang untuk membahasnya. Di dalam riwayat Abu Darda’ dan Salman al-Farisi, apa yang Allah diamkan itu merupakanal-’afwu (pemaafan).

Sesuatu yang didiamkan itu artinya tidak diwajibkan dan tidak dilarang. Itu menjadi al-‘afwu, yaitu sesuatu yang dimaafkan penggunaannya sebagai toleransi, keringanan dan kemudahan dalam beban taklif, pemaafan dalam penggunaannya. Al-Mubarakfuri dalam Tuhfah al-Ahwadzî, menjelaskan riwayat Salman al-Farisi: “fa huwa min mâ ‘afâ ‘anhu (itu termasuk yang telah Allah maafkan), yakni dari penggunaannya dan kebolehan memakannya, dan di dalamnya ada kaidah bahwa hukum asal sesuatu (benda) adalah mubah.”

Lalu bagaimana dengan perbuatan, tatacara dan muamalah yang tidak dinyatakan secara eksplisit oleh nas? Nas syariah kadangkala menjelaskan suatu perintah atau larangan berikut rincian, tatacara dan derivatnya sehingga itu termasuk hudud Allah. Perkara itu harus diambil dan dilaksanakan atau ditinggalkan berikut dengan rincian, tatacara dan derivatnya.

Nash syariah kadang menyatakan perintah bersifat umum atau global tanpa menjelaskan rincian, derivat, tatacara atau batasan-batasannya. Mukallaf diberi hak untuk memilih sarana dan cara untuk melaksanakan perintah itu. Di situlah, as-sukût (diam)-nya nas itu menjadi dalil atas kebolehan suatu rincian, derivat, sarana atau cara itu meski tidak secara spesifik dinyatakan, selama tidak ada nas khusus yang melarangnya. Itu merupakan keringanan, kelapangan, yakni rahmat, “wa sakata ‘an asyyâ`in rahmat[an] lakum”(Allah diam dari sesuatu sebagai rahmat bagi kalian).

Begitu juga masalah keduniaan, yaitu masalah sains, teknologi, teknis, deskripsi fakta, dsb; termasuk perkara yang didiamkan dan tidak dinyatakan secara rinci. Semua itu tercakup dalam ketentuan umum sabda Nabi saw.:Antum a’lamu bi umûri dunyâkum (Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian). Karena itu ia boleh diambil selama tidak dilarang.

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply