Sifat Takabur

Pintu Ledeng - Sifat Takabur

Pintu Ledeng – Takabur adalah sikap membanggakan diri. Ia merasa dirinya lebih besar, lebih baik, lebih hebat, lebih pandai, atau lebih kaya sehingga ia meremehkan orang lain. Takabur biasanya berawal dari rasa ujub atau membanggakan diri. Orang yang ujub, lama kelamaan menjadi takabur.

Orang yang memiliki sifat takabur akan cenderung memiliki keinginan untuk bisa nampak dihadapan orang lain agar bisa dianggap paling hebat atau paling baik dihadapan orang lain sehingga menyebabkan orang lain itu nampak kecil ketika ada dihadapannya.

Imam Muslim telah meriwayatkan hadits dari Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata Rasulullah saw. bersabda:

«لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ»
Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan, sekalipun hanya sebesar biji sawi. Seorang lelaki berkata, “Wahai Rasulullah, ada seorang lelaki yang menyukai pakaian yang bagus dan sandal yang bagus (bagaimana orang itu?).” Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Maha Indah dan Allah mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan menyepelekan manusia.”

Arti dari bathr al-haq adalah menolak dan membantah kebenaran dari orang yang mengatakannya. Sedangkan arti ghamtu an-naas adalah meremehkan, merendahkan dan menyepelekan manusia lain. Ada yang mengartikan, “Sombong adalah mengangkat diri di atas kondisi yang sebenarnya.” Juga ada yang mengatakan, “Sombong adalah takjubnya seseorang kepada dirinya, sehingga ia melihat dirinya lebih besar dari yang lain.”

Tempat kesombongan adalah di dalam hati, berdasarkan firman Allah:
إِنْ فِي صُدُورِهِمْ إِلاَّ كِبْرٌ
”Tidak ada dalam dada (hati) mereka melainkan hanyalah (keinginan akan) kebesaran…”(TQS. Al-Ghafir [40]: 56)

Dan sabda Rasul di atas:

«مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ»
”Barangsiapa yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sekali pun hanya sebesar biji sawi”.

Karena takabur ini adalah merasa besar terhadap manusia dan khuyala (berjalan dengan rasa sombong) serta menolak kebenaran dan merasa lebih hebat atas manusia yang lain.

Takabur diharamkan berdasarkan dalil-dalil berikut ini:

Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Haritsah bin Wahab Al-Khazaiy dari Nabi saw., beliau bersabda:
«أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَاعِفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ َلأَبَرَّهُ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ»
“Perlu aku beritahukan kepada kalian tentang ahli surga, yaitu setiap orang lemah yang menempatkan dirinya sebagai orang yang lemah. Andaikata ia bersumpah atas nama Allah, maka pasti ia akan melaksanakannya. Perlu aku beritahukan kepada kalian ahli neraka, yaitu setiap orang yang suka memaksa, yang suka berjalan dengan membusungkan dada dan orang yang sombong”.

Muslim dalam kitab shahihnya dan Bukhari dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad, keduanya telah meriwayatkan dari Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudri, keduanya berkata Rasulullah saw. bersabda :
«الْعِزُّ إِزَارُهُ وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَاؤُهُ فَمَنْ يُنَازِعُنِي عَذَّبْتُهُ»
Kemuliaan adalah pakaian Allah. Kesombongan (kebesaran) adalah selendang Allah. Allah berfirman, “Barangsiapa yang mencabut pakaian-Ku, maka Aku akan menyiksa.”

Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Tirmidzi, ia bekata hadits ini hasan shahih, Ahmad dan Humaid dalam musnadnya, Ibnu Mubarak dalam Az-Zuhud, semuanya telah meriwayatkan dari Amru bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Nabi saw. bersabda:
«يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ…»
Orang-orang yang sombong di hari kiamat akan dikumpulkan seperti biji jagung dalam bentuk manusia. Mereka diliputi kehinaan dari setiap tempat.

Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad, Hakim dalam Mustadrak dan kitab shahihnya, Ahmad dengan sanad yang dikatakan oleh Al-Haitsami bahwa perawinya adalah perawi yang shahih, telah meriwayatkan dari Ibnu Umar dari Nabi saw. Sesungguhnya beliau bersabda:

«مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ أَوْ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ»
Barangsiapa yang merasa besar dalam dirinya, atau membusungkan dada ketika berjalan, maka ia akan bertemu dengan Allah sementara Allah murka kepadanya.

Ibnu Hibban dalam Raudhatul Uqala, Ahmad dan Al-Bazar, telah meriwayatkan dari Umar bin Khatab, berkata, “Sesungguhnya manusia jika tawadlu karena Allah, maka Allah akan mengangkat hikmahnya.” Orang tersebut besar dalam dirinya tapi kecil dalam pandangan manusia dan hina disisi Allah. Semoga kita tidak termasuk didalamnya.

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply