Wibawa Umar bin Al-Khathab dan Ketakutan Setan Padanya

Pintu Ledeng TV - Wibawa Umar Bin Al Khatab

Wibawa Umar bin Al-Khathab dan Ketakutan Setan Padanya

Pintu Ledeng TV – Dirawikan dari sa’ad bin Abi Waqqash, ia bercerita, “Suatu ketika, meminta izin untuk bertemu dengan Rasulullah. Saat itu, di sisi beliau beberapa orang wanita Quraisy yang berbincang-bincang dengan beliau. Suara mereka lebih keras dari suara beliau. Ketika Umar bin Al-Khathab meminta izin masuk, mereka berlari dan sembunyi di balik tabir. Rasulullah mengizinkan Umar masuk. Beliau tersenyum tatkala Umar masuk. “Semoga Allah memanjangkan usia Anda, wahai Rasulullah”, kata Umar. Beliau mengatakan pada Umar, “Aku heran dengan wanita-wanita yang berada di sampingku tadi. Tatkala mereka mendengar suaramu, mereka berlari ke balik tabir.” “Anda lebih pantas mereka segani, wahai Rasulullah”, kata Umar. Lalu Umar mengatakan kepada wanita-wanita yang bersembunyi di balik tabir, “Apakah kalian merasa takut padaku dan kalian tidak merasa takut kepada Rasulullah?” Mereka menjawab, “Ya, benar, Anda lebih keras dan lebih kasar daripada Rasulullah.” Rasulullah mengatakan kepada Umar, “Wahai putra Al-Khathab, Demi Dzat yang nyawaku berada di tangan-Nya, setan sama sekali tidak akan menemuimu berjalan di sebuah jalan, melainkan ia akan berjalan di sebuah jalan selain jalan yang Anda lalui.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim) 

Hadits ini menjelaskan tentang keutamaan Umar bin Al-Khathab. Karena Umar selalu berjalan di atas rel yang benar, maka setan tidak menemukan pintu masuk untuk menggoda Umar. 

Menurut bin Hajar, hadits ini menerangkan tentang keutamaan Umar, di mana setan tidak menemukan jalan untuk menggoda Umar. Hal ini bukan berarti Umar orang yang maksum. Yang dimaksud di sini, setan lari dari Umar dan tidak dapat menempuh jalan yang dilaluinya. 

Hal ini juga bukan berarti menafikan bisikan setan terhadap Umar berdasar kemampuan yang dimilikinya. Dikatakan, ketidakmampuan setan menguasai Umar dengan bisikan dapat dipahami dengan metode majhum al mukhalafah. Sebab, bila suatu perbuatan dicegah di sebuah jalan, maka lebih utama kalau ia tidak mencampurinya, di mana setan dapat membisikinya.” Hal ini juga dapat dipahami sebagai perlindungan dari bisikan dan godaan setan. Hal ini bukan berarti tetapnya sifat kemaksuman bagi Umar. Sebab, kemaksuman bagi Nabi merupakan suatu keniscayaan, sedang bagi selain Nabi hanya bersifat mungkin. 

Dalam hadits yang dirawikan oleh Ath-Thabrani dari Hafshah, hadits ini disebutkan dengan redaksi, “Sesungguhnya setan tidak menjumpai Umar sejak ia masuk Islam kecuali ia akan lari dari hadapannya.” Hadits ini mengindikasikan akan kekokohan agama Umar dan kesinambungan keadaannya yang berada dalam kesungguhan dan kebenaran. 

An-Nawawi berkata, “Hadits ini ditafsiri secara lahirnya, di mana setan lari bila melihat wajah Umar.” 

Menurut ‘Iyadh, hadits ini dapat dipahami sebagai perumpamaan. Artinya, Umar meninggalkan jalan setan, lalu ia berjalan di atas jalan yang benar dan meninggalkan hal-hal yang disukai setan. 

Menurut bin Hajar, pendapat pertama lebih utama.1  [Biografi Umar Bin Al Khattab, Prof DR Muhammad Ash Shalabi Hal 92-93]


  1. Fath Al Bari, 7/47-48 dan Syarh An Nawawi, 15/165-167

Comments

comments

Disc Iklan Ramadhan for Web

Leave a Reply